Januari: hujan sehari-hari
Krisis Air di Negeri Tropis
Menabung air: jangan tunggu kemarau datang!
Buatlah sumur resapan sekarang, atau pilihlah rumah yang menyediakan sumur resapan! Wacana lama yang seringkali terdengar klise ini adalah upaya sederhana yang efektif sekaligus mudah dibuat dan murah. Sumur resapan bekerja seperti menyuntikkan air ke dalam tanah pada saat hujan. Sumur ini mengurangi aliran permukaan sehingga mengurangi kemungkinan banjir dan genangan air, sekaligus meningkatkan tinggi permukaan air tanah. Sumur ini juga mengurangi erosi dan konsentrasi pencemaran air tanah. Pembuatannya cepat, sederhana, dan tidak membutuhkan lahan yang luas. Kita dapat membuatnya dengan berbagai bahan, tergantung kondisi dan letak tanah tempat tinggal kita. Sumur ini juga dapat menjadi tempat penampungan sampah organik (dedaunan kering dan ranting) di rumah.
Dengan berbagai cara kita dapat memanfaatkan musim hujan untuk menabung air secara optimal. Sumur gali dan reservoir penampung air hujan akan menjadi pengumpul langsung, sedangkan sumur resapan akan menjadi tabungan cadangan. Dengan filter sederhana kita dapat mengubah air hujan menjadi air bersih, dan air tanah menjadi air layak minum. Semua air sisa yang kita buang ke tanah terbuka juga akan menambah cadangan air permukaan kita. Untuk jangka panjang, usaha-usaha sederhana semacam ini dapat mengurangi resiko erosi dan banjir yang kita alami saat ini. Dengan perencanaan yang matang dan penanganan yang baik, kita dapat memenuhi kebutuhan air di rumah sendiri, tanpa takut krisis air di musim kemarau. Optimalisasi penggunaan air, dan tabung air mulai dari sekarang: jangan tunggu kemarau datang... Selamat menabung!!
Tahun baru tiba: 2012 terbit dengan balutan fenomena dan jaring prediksi membabi-buta. Mulai dari krisis ekonomi hingga pertunjukkan kekuasaan di belahan dunia lain, hingga ramalan tentang kiamat yang datang di penghujung tahun lalu. Runut kejadian dan prediksi serta ramalan tentang tahun ini berkelindan memberi peringatan sekaligus harapan. Di luar itu semua, tahun baru sebenarnya hanya sebuah titik waktu baru bagi siklus bumi dan perkembangannya. Sebagaimana sudah berjalan ribuan tahun lamanya, tahun baru 2012 menandai puncak musim hujan di tanah tropis kita.
“Januari – bulan hujan sehari-hari”; kata orang-orang tua kita jaman dulu. Mungkin karena evolusi bumi, pendewasaan langit, atau bukti pemanasan global – kita melihat tingkah polah cuaca yang semakin hari semakin hebat dan tidak bersahabat. Hampir tiap hari televisi, koran, dan jejaring sosial lain memuat kabar tentang hujan badai, topan, atau puting beliung; yang mengakibatkan pohon tumbang, tanah longsor, atau banjir bandang. Musim hujan seolah identik dengan berbagai masalah terutama bencana yang kerap kali sudah di”rencana” di akhir musim kemarau. Waspada banjir, atau tanah longsor kerap hanya jadi slogan di penghujung musim kemarau – dan sudah menjadi kebiasaan yang pasti datang setiap tahun.
Musim hujan memang membawa banyak masalah; masalah lama yang muncul ke permukaan karena baru kelihatan setelah ditutupi berbagai alasan. Sampah misalnya; pengelolaan dan penanganannya yang buruk sangat terlihat ketika musim hujan datang. Drainase yang buruk, penggundulan hutan atau pembukaan lahan liar hanya beberapa lainnya yang melengkapi asal muasal bencana di musim hujan. Karena itulah, potensi musim hujan yang besar kerap tertutupi oleh segala masalah yang ada. Salah satunya adalah air bersih. Puluhan tahun kita berkutat dengan banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.
Krisis Air di Negeri Tropis
![]() |
| Dok. Google Search |
Krisis air bersih kita alami di banyak daerah, dan setiap tahun semakin parah. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia. World Water Council (Dewan Air Dunia) mencatat sedikitnya 1.1 miliar penduduk dunia hidup tanpa air bersih untuk minum, 2.6 miliar orang tidak mendapat sanitasi yang cukup, dan tidak kurang dari 1.8 miliar orang meninggal akibat diare setiap tahunnya.[1] Penebangan hutan liar dan pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan di daerah sub urban merupakan penyumbang yang cukup besar bagi krisis air bersih ini; apalagi irigasi untuk agrikultur memakan 66% penggunaan air dunia. Sisa 34% lainnya terbagi untuk hunian (10%), industri (20%) dan evaporasi alami (4%). Angka tersebut sepertinya menunjukkan bahwa penggunaan air untuk kehidupan sehari-hari manusia (hunian) tidak terlalu besar; namun justru di sektor inilah air bersih berkualitas (dapat diminum) sangat dibutuhkan. Kebutuhan krusial untuk minum dan sanitasi menjadi perhatian utama, karena pertumbuhan kebutuhan tersebut membawa dampak negatif bagi persediaan air untuk kebutuhan lain dan persediaan tabungan air masa depan. Sedikitnya 40% negara di dunia sekarang mengalami kelangkaan air. Indonesia memang tidak termasuk dalam salah satu negara tersebut, tapi sampai kapan?
Berkat iklim tropis yang dermawan, keterbatasan air di Indonesia tidak sampai taraf langka. Sebagian besar krisis air yang terjadi di Indonesia hanya dialami pada musim kemarau panjang. Berbeda dengan negara-negara di iklim lain, Indonesia masih bisa bergantung pada pergantian musim yang membawa kelegaan setelah kemarau berkepanjangan. Tapi bersamaan dengan itu pula, sepertinya kedatangan musim hujan dengan debit air yang tinggi tidak juga menyelesaikan krisis air, dan malah mendatangkan langganan masalah tahunan seperti banjir dan penyakit. Hal ini sangat terasa di kota-kota besar dengan tingkat hunian dan kepadatan penduduk yang tinggi; di mana banjir, penyakit, dan krisis air bukan saja mengenai kesehatan atau masalah sosial – tapi dapat merembet mempengaruhi berbagai aspek kehidupan kota. Tentu saja hal ini tidak lepas dari penyebab-penyebab sistemik seperti perencanaan lahan, kebijakan menyangkut air dan sumber air, jaringan infrastruktur, dan lain-lain. Kita bisa berdebat dan menggembar-gemborkan masalah penebangan hutan atau pembukaan lahan perkebunan, polusi sungai dan saluran air, sampah, hingga limbah industri. Kita juga bisa melakukan pencegahan dengan kesadaran terhadap lingkungan, desain rumah berkelanjutan, atau gerakan-gerakan peduli lingkungan. Namun sebenarnya, sumbangan pencegahan sederhana dapat dilakukan di lingkungan kota terkecil, yaitu unit rumah dan keluarga yang menempatinya.
Menabung air: jangan tunggu kemarau datang!
Rumah merupakan tempat yang paling bisa kita rekayasa, terlepas dari peraturan maupun morat-maritnya kota. Rumah juga merupakan motor budaya dan gaya hidup lokal di lingkungan tempat tinggal. Banyak persoalan teknis tentang air yang dapat dicegah atau diminimalisir dengan mengembangkan kebiasaan dan gaya hidup sadar air di lingkungan keluarga sendiri. Rumah kita dapat kita jadikan celengan untuk menabung air – paling tidak untuk keberlangsungan hidup kita sendiri selama kita tinggal di rumah tersebut.
- Pilahlah air “bersih” anda!
Bukan hemat, melainkan pandailah memilah air! Menghemat air bukan semata-mata berarti mengurangi penggunaan air. Malah kurang tepat bila kita menghemat air sebisa-bisanya dengan menggunakan air sesedikit mungkin dan mengabaikan pentingnya sanitasi di rumah. Tidak seluruh kebutuhan air di rumah kita adalah kebutuhan akan air “bersih”. Kita dapat menyusun prioritas penggunaan air dan memilah kegiatan yang cukup menggunakan air “kurang bersih”:
· Air minum
Air ini termasuk air bersih prioritas pertama. Baik air tanah, maupun air kemasan yang digunakan untuk minum di rumah haruslah merupakan air yang tidak tercemar dan memiliki kandungan mineral yang menyehatkan.
· Air bersih
Air ini adalah air yang kita gunakan untuk keperluan mencuci diri (mandi), atau benda-benda yang berkaitan langsung dengan tubuh kita seperti peralatan makan dan pakaian. Benda-benda ini harus dicuci dengan air bersih, tapi tidak harus dengan air bersih layak minum. Kebutuhan untuk mencuci benda-benda tersebut dapat kita masukkan ke dalam prioritas kedua.
· Air cucian
Air ini merupakan air yang kita gunakan untuk keperluan mencuci benda lain yang tidak berkaitan langsung dengan tubuh kita; seperti kendaraan, perkakas, dan lain-lain. Kita dapat menggunakan air minum sisa, atau air tanah non filter untuk keperluan ini.
· Air sisa
Ada bermacam-macam air sisa. Air hujan non filter dan air sisa dapur termasuk dalam kategori ini. Air ini dapat kita gunakan untuk membasuh atau diserapkan kembali ke dalam. Salah satu kebutuhan air yang dapat kita penuhi dengan air sisa adalah gelontor toilet, menyiram tanaman, dan mengairi kolam atau bak penampung air.
· Air limbah
Air limbah jelas-jelas bukan air bersih. Namun kadang kita dapat menggunakan air limbah untuk kebutuhan di rumah seperti pupuk sederhana. Selebihnya, kita harus memperhatikan agar air limbah yang kotor terolah baik ke dalam septic tank dan tidak membebani lingkungan di sekitar rumah.
- 2. Rumah dengan sumur resapan
![]() |
| Dok. Meneg LH |
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sumur resapan:
· Letakkan sumur resapan di tanah yang relatif datar, di mana air hujan yang masuk sebisa-bisanya adalah air hujan yang tidak tercemar.
· Sumur resapan harus diletakkan lebih tinggi dari sumur gali biasa
· Letakkan sumur resapan mínimum 1m dari pondasi rumah, 3m dari sumur gali biasa dan mínimum 5m dari septic tank.
Mintalah bantuan dinas pengelolaan air bila tidak yakin dengan kondisi tanah di rumah anda. Artikel lain tentang pedoman pembuatan sumur resapan: http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/sumur-resapan/
- 3. Reservoir dan filter air
Buatlah reservoir sendiri di rumah untuk menampung air, dan sediakan filter air bila ingin memastikan kualitas air yang kita gunakan. Kita dapat juga mengatur reservoir sesuai dengan kebutuhan air bersih yang kita gunakan.
- 4. Keran dan bak mandi
Waspada keran bocor! Jangan biarkan keran bocor hingga berlarut-larut, dan gantilah keran yang sudah rusak. Ingatlah bahwa tetesan air yang terbuang ke riol tidak bisa diremajakan atau diresapkan kembali ke tanah.
- 5. Air “buangan”
Sadarlah saat kita membuang air: apakah air yang kita buang itu air minum, air bersih, air sisa, atau air kotor. Berapa banyak air minum sisa dalam gelas yang langsung anda buang ke sink? Berapa banyak air kemasan (botol atau gelas) sisa yang sudah anda buang? Air minum buangan dapat kita gunakan untuk mencuci benda lain, air ini dapat dikumpulkan. Air bersih dan air sisa sebisa mungkin diresapkan kembali ke dalam tanah, dan buanglah hanya air kotor ke dalam riol atau ke saluran pembuangan (septic tank).
Dengan berbagai cara kita dapat memanfaatkan musim hujan untuk menabung air secara optimal. Sumur gali dan reservoir penampung air hujan akan menjadi pengumpul langsung, sedangkan sumur resapan akan menjadi tabungan cadangan. Dengan filter sederhana kita dapat mengubah air hujan menjadi air bersih, dan air tanah menjadi air layak minum. Semua air sisa yang kita buang ke tanah terbuka juga akan menambah cadangan air permukaan kita. Untuk jangka panjang, usaha-usaha sederhana semacam ini dapat mengurangi resiko erosi dan banjir yang kita alami saat ini. Dengan perencanaan yang matang dan penanganan yang baik, kita dapat memenuhi kebutuhan air di rumah sendiri, tanpa takut krisis air di musim kemarau. Optimalisasi penggunaan air, dan tabung air mulai dari sekarang: jangan tunggu kemarau datang... Selamat menabung!!


No comments:
Post a Comment