Januari: hujan sehari-hari
Tahun baru tiba: 2012 terbit dengan balutan fenomena dan jaring prediksi membabi-buta. Mulai dari krisis ekonomi hingga pertunjukkan kekuasaan di belahan dunia lain, hingga ramalan tentang kiamat yang datang di penghujung tahun lalu. Runut kejadian dan prediksi serta ramalan tentang tahun ini berkelindan memberi peringatan sekaligus harapan. Di luar itu semua, tahun baru sebenarnya hanya sebuah titik waktu baru bagi siklus bumi dan perkembangannya. Sebagaimana sudah berjalan ribuan tahun lamanya, tahun baru 2012 menandai puncak musim hujan di tanah tropis kita.
“Januari – bulan hujan sehari-hari”; kata orang-orang tua kita jaman dulu. Mungkin karena evolusi bumi, pendewasaan langit, atau bukti pemanasan global – kita melihat tingkah polah cuaca yang semakin hari semakin hebat dan tidak bersahabat. Hampir tiap hari televisi, koran, dan jejaring sosial lain memuat kabar tentang hujan badai, topan, atau puting beliung; yang mengakibatkan pohon tumbang, tanah longsor, atau banjir bandang. Musim hujan seolah identik dengan berbagai masalah terutama bencana yang kerap kali sudah di”rencana” di akhir musim kemarau. Waspada banjir, atau tanah longsor kerap hanya jadi slogan di penghujung musim kemarau – dan sudah menjadi kebiasaan yang pasti datang setiap tahun.
Musim hujan memang membawa banyak masalah; masalah lama yang muncul ke permukaan karena baru kelihatan setelah ditutupi berbagai alasan. Sampah misalnya; pengelolaan dan penanganannya yang buruk sangat terlihat ketika musim hujan datang. Drainase yang buruk, penggundulan hutan atau pembukaan lahan liar hanya beberapa lainnya yang melengkapi asal muasal bencana di musim hujan. Karena itulah, potensi musim hujan yang besar kerap tertutupi oleh segala masalah yang ada. Salah satunya adalah air bersih. Puluhan tahun kita berkutat dengan banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.